Tampilkan postingan dengan label Coretan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan kecil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2014

Rindu

Kutatap lekat lekat setiap sudut kota Mekah....
Kudaki Jabal Nur, tuk resapi perjalanan kekasihMu Duhai Allah

Separuh hatiku meronta,
meronta meminta tuk tak tinggalkan negeri ini....

Riyadh, 2012

Haramain,
Tempat yang paling dirindu
Tempat dengan panorama terindah di bumi ini

Betapa Romantisnya, musim semi di negeri ginseng,
Betapa Megahnya, bangunan-bangungan klasik di Eropa,
Tak ada yang mampu menyatukan berbagai rasa ini dalam kalbu,
keindahannya mampu menggetarkan jiwa,
membuatku meneteskan air mata haru, syahdu, mengharu biru
tak ada satupun.....
selain Al Haramain...

Wahai Allah, berikan kesempatan pada kami
kembali mengunjungi Rumah-Mu

Daejeon, Juni 2014



Rabu, 30 April 2014

Load


When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
with every step on that road that you take,,,, Allah Knows (Zain Bikha)

Ketika beban terasa berat di pundak, dada terasa sesak, 
ingatlah tak ada tempat lain untuk bersandar selain Allah. 
Terkadang kita berpikir keras mencari solusi atas permasalahan yang kita hadapi, 
semakin dalam berpikir semakin penat terasa, 
Lupakah kita akan ayat-Nya, bahwa jadikan shalat dan shabar sebagai penolong?

ingatkah kita akan,satu ayat diakhir surat Al Baqarah?
Laa yukallifullahu nafsan Illa wus'aha....
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...
(QS.Al Baqarah: 286)




Rabu, 26 Desember 2012

Ukhuwah fillah


Ada rasa rindu,
Rindu yang menyesakkan dada,

Kerinduan yang sangat pada haramain,
dua dari tiga tempat yang Allah anjurkan setiap muslim untuk mendatanginya

Disana,
ada pengalaman ruhiy yang tak akan pernah kita dapat di belahan bumi manapun…
Ka’bah, Safa, Marwah, Thaif, Gua Hira, Raudhah, Baqi, Bukit Uhud, Padang Arafah,
 Allahu Akbar!

Disanalah
kita merasai, memaknai perjuangan Rasul dan para sahabat lebih dalam

Madinah,
Sepanjang mata ini memandang setiap sudut kotanya, rekaman kisah Rasulullah dan para sahabat rasa-rasanya begitu nyata dihadapan mata,,,

Cita rasa ruhiyah yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata
Yang membuncah,  memenuhi seluruh relung hati,
Rasa yang tak bisa kita rasakan di belahan bumi manapun selain di Haramain…
Allahu Akbar!

Ada rasa rindu…
Rindu akhwat-akhwat shalehah nun jauh di Saudi sana..

kilasan wajah-wajah mereka berkelebat bergantian senantiasa menghiasi hari-hariku disini
hari-hari mereka selalu ramai dengan majelis-majelis ilmu,
Aku rindu berada diantara mereka, tertawa bersama, menangis bersama…
Mereka yang senantiasa mengajari aku, membimbingku agar dewasa dalam mengarungi episode kehidupan ini,
‘lihatlah segala sesuatu dari kacamata keimanan!’ itulah jargon yang kerapkali diucapkan…
Terima kasih ya Allah telah mempertemukanku dengan mereka,,


Ada  haru…
Selalu ada saudara seiman yang Allah siapkan,
Di bumi Allah manapun kita berpijak,

Selalu ada cerita tentang  semangat da’wah dan tarbiyah yang mengharu biru
Melukiskan warna tersendiri dalam nuansa hati
 tak ada sekat-sekat teritori, tak ada kendala-kendala lughawiy,
yang ada adalah ikatan ukhuwah islamiyah yang menghujam di dasar hati,
Bahwa
kita tak sendiri

di Palestina, Syria, Mesir, Turki, dan di belahan bumi lainnya,
ketahuilah, mereka  sedang bergerak, kemudian berlari
tuk  menjadi ustadziatul ‘alam…

lalu dimanakah aku? Kita?
Tidak!
Tidak ya Rabb, jangan biarkan hambamu ini hanya menjadi sekedar penonton..

Tetapi,
Tetapkan aku dalam barisan ini, di jalan yang Engkau Ridhai
-Aamin-

 “Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR Musllim)

Sabtu, 15 Desember 2012

Allah Maha Tahu yang Terbaik untuk Hamba-Nya….



Ketika musim dingin tiba setiap akhir tahun di bumi Riyadh, saya sangat senang. Tak ada suara berisik AC, kemudian Aufa  tidur sangat lelap, bahkan jarang sekali terbangun di malam hari. Walaupun usianya tahun lalu masih 19-20 bulan, dia sudah tak pernah meminta minum susu di malam hari.. karena makannya yang sangat lahap di siang harinya.  Ibu mana yang tak senang ketika sang anak makannya lahap?!


Namun Saat itu, hujan berdebu terus menerus menerpa kota Riyadh, pertanda musim dingin kan usai, dan tak lama lagi, musim panas akan menyapa… di musim peralihan dan musim panas biasanya hampir semua orang nafsu makan mulai berkurang.
Begitu juga yang dialami oleh Aufa, nafsu makannya mulai berkurang, beberapa kali saya selalu membujuk aufa agar ia bisa makan lebih banyak, saya pun beberapa kali berhasil membujuknya,,,

Namun, apa yang terjadi?
Ternyata beberapa hari kemudian pup aufa tidak lancar,frekuensi pup menjadi meningkat (3x sehari), namun sedikit dan keras…
Kemudian saya menemukan benjolan di perut kanannya setelah tiga hari pupnya mengeras… akhirnya karena ingin tahu apa sebenarnya benjolan tersebut, sore harinya kami pun pergi ke rumah sakit. 

Di rumah sakit, dokter tak menemukan benjolan tersebut, akhirnya dilakukan abdomenal x-ray.  Setelah kami melihat hasilnya, ternyata memang ada banyak feces di ususnya aufa..  dokter pun memberikan obat pencahar.
Resep dokter tidak kami berikan pada aufa, karena kami yakin kondisi aufa belum begitu parah (pup nya masih setiap hari walaupun keras dan sedikit2), dan insyaAllah dengan bahan-bahan alami masih bisa diatasi.
Keesokan harinya,  Alhamdulillah pup aufa sudah tak keras lagi…
------------------------------------------------------------------------------

Memandangi Aufa ketika terlelap, saya betul-betul merasa bersalah, karena selalu membujuknya untuk makan lebih banyak.  Di musim dingin, aufa makan bisa sampai 25 suap, namun di musim peralihan ini hanya 10-15 suap saja.  Seharusnya diri ini bersyukur aufa masih mau  makan, 10 suap itu ternyata banyak, jika dibandingkan dengan anak2 tetangga yang terkadang seharian tak mau makan…
Namun saat itu  saya tak rela nafsu makan anak menurun, takut anak jadi kuruslah, ketahanan tubuhnya menurun lah..  saya tetap menyuapinya dengan menu yang sama.. padahal musim sudah mulai berganti, dan begitu juga dengan kebutuhan tubuh kita…

Terkadang sebagai manusia, kita selalu memandang yang terbaik dari sudut pandang kita, padahal bertentangan dengan sunnatullah

Sesungguhnya Allah telah mengatur semuanya, semuanya yang terbaik bagi hamba-Nya…

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
-Surah Al-Baqarah ayat 216-

Katakanlah:”Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi….”
-QS.Yunus:101-
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (cerdas). Yaitu orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kondisi berdiri, duduk dan berbaring.
-Ali Imran: 190-191-

Kamis, 12 April 2012

Anak-anak Rumah 9


tenda tempat anak-anak rumah 9 bermain :)

Rumah 9 adalah nama rumah kami. Sembilan keluarga yang tinggal dalam satu bangunan 3 lantai di kota riyadh ini.
Anak-anak di rumah ini, seperti juga anak2 lainnya, polos, aktif, rasa ingin tau mereka tinggi. Yang paling tua berumur 7 tahun dan yang lain beruntun umurnya (biasanya yang ikut bermain paling muda berumur 2 tahunan). Terkadang jika semua anak, masuk ke rumah, kewalahanlah saya dengan berbagai berbagai aktivitas dan permintaan mereka J
Namun, yang (mungkin) berbeda dengan anak2 lainnya adalah; anak-anak rumah 9 tak ditemani TV dalam kesehariannya,
dan yang membuat saya terkadang tersenyum bercampur haru adalah mendengarkan mereka di balik jendela ketika mereka bermain di tenda (yang terletak di dalam halaman rumah), mereka dengan mandiri belajar iqro, dan saling membacakan hafalan J MasyaAllah…
Semoga kami senantiasa bisa mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anak2 kami… Aamin Ya Rabb

Sabtu, 18 Februari 2012

Rabu, 28 September 2011

Home Sweet Home


Setelah merantau selama 2 tahun, saya dan mungkin teman-teman lain juga merasakan hal yang sama…
Ketika sedang di rantau, rindu tanah air, rindu suasananya, makanannya, dan tentu saja rindu orang tua , sanak saudara, serta sahabat.. Ketika kemarin libur musim panas tiba, para bahist (mahasiswa+peneliti) dan beberapa pekerja lainnya, dapat berlibur selama 2 bulan.. sebagian besar dari kami pulang ke tanah air..
Lalu apa yang terjadi? Ternyata.. begitu pula sebaliknya ketika sedang di tanah air, kami rindu tempat tinggal di rantau
Ketika jadwal kembali ke tanah rantau sudah dekat, saya sendiri sedih karena harus meninggalkan keluarga tercinta. Namun, Ternyata! setibanya di Riyadh.. hati ini rasanya tentram, nyaman dan bahagia.. tidak ada rasa sedih sama sekali…
Jadi dimana sebenarnya tempat yang kami sebut ‘rumah/home ( a place where we belong to)’?
Allahu ‘alam,akan tapi yang saya rasakan, tempat dimana kami (saya, suami dan juga anak) tinggal, di belahan bumi Allah manapun.. mungkin disitulah yang kami sebut dengan ‘rumah’

Kamis, 24 Maret 2011

Deadliners..

“Koreksi akhir majalah PENA. Deadline, Selasa 22/03 2011 pukul 08.00 malam”.

PENA adalah majalah yang diterbitkan oleh Atase Pendidikan Kedutaan Besar RI (KBRI) Riyadh untuk masyarakat Indonesia di Arab Saudi. Kebetulan, kami berdua (saya dan istri) menjadi editornya (hehe., sekalian nambah kas keluarga ceritanya :D).

Demikianlah, kalimat pembuka diawal tulisan ini senantiasa ‘meramaikan’ kondisi rumah kami setiap 3 bulan sekali.

Memiliki deadline berarti positif, dimana kita memiliki satu batas waktu untuk menyelesaikan suatu tugas. Setidaknya, kita pasti memiliki ancang-ancang dan tahapan-tahapan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Alhamdulillah, jika tugas yang kita miliki dapat diselesaikan dengan sempurna. Astagfirullah, jika ternyata tugas kita masih jauh dari selesai…

Semua orang pasti pernah mengalami hal yang serupa terkait per-deadline-an ini. Ketika kita memiliki suatu tanggal pasti (tenggat akhir untuk melakukan suatu tugas), segala sumber daya yang kita miliki (terutama waktu, tenaga dan pikiran) pastinya akan dikerahkan seoptimal mungkin untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Entah mengapa, ada suatu kenikmatan tersendiri yang dirasakan, apalagi ketika kita benar-benar menyelesaikannya di detik-detik akhir, alias menjadi seorang deadliners.

Entahlah, sepertinya ada sebuah kekuatan lebih ketika kita mengerjakannya pada detik-detik terakhir. Pikiran kita jauh lebih konsentrasi dan fokus, terkadang dalam waktu singkat pekerjaan-pekerjaan ternyata bisa dilakukan dengan baik.

Coba bandingkan ketika suatu pekerjaan yang tidak memiliki deadline, atau memiliki deadline yang panjang. Mengerjakan pekerjaan dengan cara bertahap terkadang justru membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang dikerjakan mendekati deadline. Ketiadaan deadline, nampaknya cenderung membuat kita dihinggapi rasa malas atau bekerja kurang efektif, betul? (Mungkin ini hanya berlaku untuk orang-orang tipe deadliners J )

Namun walau bagaimanapun, sepertinya kebiasaan deadliners atau procrastination (penundaan) harus dikikis sedikit demi sedikit… Mengapa?

Jika kita renungkan lebih jauh lagi, sesungguhnya ada hal yang sangat penting dalam kehidupan ini namun tidak kita ketahui kapan deadline-nya. Hal itu tidak lain adalah umur kita! Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan deadline umurnya akan tiba. Untuk yang satu ini kita tidak punya pilihan lain, selain untuk senantiasa berusaha agar…

TIDAK MENJADI ORANG-ORANG YANG SUKA MENUNDA-NUNDA

DAN BERLEHA-LEHA!!!

Untuk itu, kita harus CERDAS!

Kriteria apa sehingga kita bisa disebut cerdas?

Ibnu Umar menceritakan, Aku datang menemui Nabi s.a.w., bersama sepuluh orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, “Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah?” Kemudian Nabi s.a.w. menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat” [H.R. Ibnu Majah]

Semoga kita tergolong kedalam apa yang Rasulullah sebutkan diatas… Aamin

Riyadh, 24 Maret 2011

*picture taken from orgjunkie.com


Minggu, 06 Maret 2011

TED and TEDx Conference


Apa sih TED?? pertanyaan ini saya lontarkan ketika saya dan suami sedang melihat sebuah video seorang berkebangsaan india bernama Pranav Mistry yang mempresentasikan tentang penemuannya ‘The sixth sense’ pada sebuah acara bernama TED.


Yang menarik adalah bukan hanya produk dan penemuannya akan tetapi di akhir presentasinya, Pranav Mistry ini memiliki keinginan untuk kembali membangun negerinya memberikan kontribusi untuk masyarakatnya, dari kawah candradimuka MIT kembali ke india…


Ternyata tak hanya Pranav Mistry yang memiliki ide luar biasa.. ada William Kwamkamba, di Indonesia ada bapak Nurul, dan sejumlah pembicara-pembicara lainnya…


kita bisa belajar banyak hal dari mereka…


Disarikan dari informasi di Youtube (Presentasi TEDx Bandung @ITB) dan Wikipedia, inilah TED:

TED ini kepanjangan dari Technology, Entertainment and Design.. yang mulai diinisiasi oleh Richard Saul Wurman pada tahun 1984. Pada tahun itu, 3 bidang tersebut berjalan sendiri-sendiri. Munculah ide untuk menyatukan ketiganya karena potensinya jika dikolaborasikan. Diselenggarakanlah konferensi bernama TED secara berkala. Pada perkembangannya tidak hanya 3 bidang tadi yang dibahas pada event ini, tetapi ada juga bisnis, fenomena sosial, kultur, pendidikan, seni, ilmu pengetahuan dan bidang lainnya yang bahkan sulit dikategorikan. Pembicara-pembicara yang luar biasa dihadirkan seperti Bill gates, Al Gore, etc.. pada konferensi tersebut bahkan audiens-nya pun diseleksi. Tiket untuk mengikutinya luar biasa mahal, yaitu seharga USD $ 4000.


Ya, pada awalnya TED memang elitis, sampai akhirnya pada tahun 2006, TED diambil alih oleh Chris Anderson seorang kurator asal Inggris. Dia me’revolusi’ TED (yang memiliki tagline ideas worth spreading) menjadi sebuah wadah pembelajaran.. dia menggratiskan video-video TED dan juga memperbolehkan TED diselenggarakan secara independent (yang dinamakan TEDx) di Negara manapun. Video-video tersebut pun di translasikan ke lebih dari 79 bahasa oleh ribuan volunteer. Pada tahun pertama ada 250 penyelenggaraan konferensi TEDx diseluruh dunia, tahun kedua meningkat menjadi lebih dari 1000 konferensi. Luar biasa perkembangannya!!


Cita-cita Chris Anderson adalah membuat ‘Harvard without building’

Belajar tidak lagi dibawah tekanan, tidak lagi dalam ruang-ruang kelas, belajar langsung dari orang-orang yang ahli di bidangnya, saling memberi inspirasi dan bersama membuat inovasi global.


Alhamdulillah saat ini akses internet membuat kita bisa belajar banyak hal, sehingga tidak ada alasan untuk gaptek, gapfo (gagap informasi he..he..), dan juga tidak ada alasan untuk berhenti belajar. So, harus tetep up to date dengan informasi dan teknologi... perbesar terus kapasitas diri!


Bersyukur hingga saat ini masih merasakan haus akan ilmu, lezatnya belajar, nikmatnya membaca dan menulis…


Semoga ilmu yang didapat bisa menjadi ilmu yang bermanfaat, bekal dan amal jariyah yang pahalanya senantiasa mengalir… Aamin Ya Rabb

Selasa, 25 Januari 2011

Terjebak Dalam Stereotipe


Mempertanyakan apakah anak yang saya bawa adalah anak saya sendiri adalah yang sering kali ditanyakan orang Saudi atau expatriat lainnya kepada saya ketika di luar Rumah (seperti di Rumah Sakit, Masjid dan di tempat lainnya). Berbeda, Ketika saya pergi ke Rumah Sakit atau kemana pun di Indonesia, tidak pernah tuh ada orang mempertanyakan apakah yang sedang digendong itu anak saya atau bukan.

“Hiya Bint anti? Bintuki?” (ini anak kamu?)
“Anti Syughl hena?” (kamu kerja disini?)
Setelah pertanyaan pertama saya jawab Ya… biasanya sang penanya agak sedikit heran, lalu mereka mengungkapkan serangkaian pertanyaan lanjutan lainnya… Kamu disini tinggal dengan suami? Suami kamu kerja dimana?

Suatu ketika di Bandara, bahkan ada seorang TKW menyangka saya sedang mengasuh anak orang Saudi, dan nyaris tidak percaya kalo anak yang saya gendong adalah anak saya sendiri.

Ketika saya bertemu dengan para perawat dari filipina dan india, mereka pun kadang tidak percaya saya orang Indonesia hanya karena saya berbahasa Inggris (Bahasa Arab belum bisa soalnya, jadi mau pake bahasa apalagi selain bahasa Inggris).

Tapi yang paling mengesalkan adalah ketika ditanya oleh seorang petugas di rumah sakit. Saat itu Aufa baru saja selesai imunisasi, saya masih menunggu suami, saat itu saya tidak duduk di ruang tunggu khusus wanita, saya berjalan-jalan di rumah sakit karena Aufa bosenan. Tiba-tiba saya ditanya pake bahasa Arab..
“Ngapain kamu berdiri disini?” kira-kira begitu artinya.
“wen mama?” bahasa ammiyah yang artinya dimana mama... saya tahu maksudnya adalah menanyakan mana majikan kamu?
“Pardon? What did u say? I don’t understand?” (saya jawab saja begitu)
“Where is her mother?” dia kembali bertanya sambil menunjuki Aufa yang sedang digendong.
“I’M HER MOTHER!” saya jawab dengan kesalnya...

Hmmm.. terkadang kita sering terjebak dengan stereotype. Apalagi di Saudi, sebuah negara dengan penduduk 23% expatriat, yang sangat tergantung dengan SDM asing. Selama setahun lebih saya disini, nyaris tidak pernah saya melihat orang Saudi yang ‘bekerja kasar’ kecuali untuk profesi satpam. Di sini dari mulai tukang kebun, perawat, cleaning service, petugas di kasir, petugas sampah, dan pekerjaan ‘melelahkan’ lainnya semua dikerjakan oleh orang asing. Mungkinkah karena kondisi seperti ini, masyarakat disini jadi terbentuk dan terbiasa menilai status atau memberi label terhadap seseorang dari kebangsaannya?

Di sini sudah menjadi hal biasa sebuah bangsa diidentikkan dengan suatu profesi, sehingga terkadang kebangsaan seseorang menentukan status sosial dimata masyarakat Saudi. Dan, entah kenapa pada kenyataannya setiap profesi memang hampir selalu didominasi oleh bangsa tertentu. Contohnya, orang Indonesia identik dengan supir dan pembantu, sedangkan bangladesh identik dengan petugas sampah dan cleaning service, india biasanya identik dengan petugas kasir atau penjual di tempat perbelanjaan yang banyak dikunjungi expatriat.

Bahkan yang saya dengar dari teman saya (seorang mahasiswa ilmu keperawatan), gaji/salary (pada profesi yang sama pun) dibedakan berdasarkan kebangsaannya. Saya tidak tau apakah itu hanya ditempatnya bekerja atau itu berlaku di instansi-instansi lainnya. Padahal dalam Islam kita tidak bolejh menilai dan menyombongkan diri hanya karena warna kulitnya, bangsa/suku/ras-nya, status-nya, kekayaan-nya dan nilai-nilai lainnya kecuali ketakwaannya. Seperti yang Allah SWT firmankan dalam QS. Al Hujurat:13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam suatu hadits riwayat Abu Hatim yang bersumber dari Ibnu Mulaikah berkenaan turunnya ayat ini ialah bahwa ketika fathu Makkah, Bilal naik ke atas Ka’bah untuk adzan. Beberapa orang berkata, “Apakah pantas budak hitam adzan di atas Ka’bah?”. Maka berkatalah yang lain, “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Allah akan menggantinya. “Maka datanglah malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah saw apa yang mereka ucapkan. Maka turunlah ayat ini yang melarang manusia menyombongkan diri karena kedudukan, pangkat, kekayaan, keturunan dan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah dinilai dari derajat ketakwaannya.

Wallahu a’lam.

Sabtu, 22 Januari 2011

8 Bulan Habiskan Hidup di Jalanan...

Rekayasa lalu lintas dan penggunaan tata ruang kota yang tidak carut marut tentu saja dapat menimbulkan berbagai kerugian bagi masyarakatnya, salah satu diantaranya adalah akibat kemacetan. Contohnya saja yang terjadi pada saya pribadi, sejak 10 tahun yang lalu saya menggunakan jasa angkutan umum untuk berangkat dan pulang dari sekolah/kampus, jarak yang ditempuh tidak kurang dari 8 km. Waktu untuk menempuh jarak tersebut adalah 1 jam bahkan jika macet bisa mencapai 1,5 hingga dua jam. Jika dikalkulasi, saya sudah menghabiskan waktu saya selama 8 bulan di jalanan!!

Di Kota Bandung, hari libur maupun hari kerja sama saja, tidak ada bedanya, bahkan pada hari libur kemacetan lalu lintas di beberapa ruas jalan bisa lebih parah lagi. Jika musim hujan datang, kemacetan di kota Bandung tambah parah lagi.

Sebenarnya, Jika lalu lintas lancar tanpa hambatan jarak tersebut dapat ditempuh paling lambat 45 menit. Lalu mengapa ada waktu 15 hingga 45 menit waktu tambahan di jalan? Berdasarkan pengalaman pribadi, selain faktor kemacetan, perilaku supir angkutan umum yang seringkali ngetem pun menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya pertambahan waktu tempuh. Serba salah juga jika kita menyalahkan si supir, alasannya si supir juga tidak mau rugi.

Yang pasti supaya ga sia-sia pas naik angkutan umum.. isi dengan hal-hal yang bermanfaat.. Baca buku, ngapalin qur’an, atau baca doa alma’surat :)